Dolphinkiluanbay dalam berita

MENARIK: Keberadaan lumba-lumba membedakan Teluk Kiluan dengan objek wisata bahari lain di negeri ini. FOTO IST

Promosi melalui Media Sosial, Full Booked hingga Juni
Potensi wisata bahari Lampung sangat luar biasa. Sayang, banyak warga Lampung yang belum mengetahuinya. Salah satunya Teluk Kiluan di Kabupaten Tanggamus yang terkenal dengan keberadaan lumba-lumbanya. Potensi inilah yang lantas dilirik keluarga Tatang, pemilik sekaligus pengelola Kiluan Dolphin QD, semacam travel tour ke objek wisata itu. Saat ini, mereka kewalahan melayani permintaan tur.

Laporan Eka Yuliana, BANDARLAMPUNG

WISATA bahari Indonesia sangat terkenal hingga mancanegara. Hampir setiap provinsi di negara ini memiliki pantai yang sangat potensial untuk dijadikan objek wisata. Tak ketinggalan pula provinsi paling ujung di Pulau Sumatera, Lampung.

Di provinsi yang dikenal sebagai gerbang Sumatera ini ada puluhan pantai yang sejak lama dikenal keindahannya. Salah satunya Teluk Kiluan yang berada di Pekon Kiluannegeri, Kecamatan Kelumbayan, Tanggamus. Banyak orang menyebut daerah ini sebagai surga tersembunyi. Anggapan itu cukup wajar, sebab selama ini Teluk Kiluan belum terekspos dengan baik. Bahkan untuk warga Lampung sendiri masih banyak yang awam dengan lokasi wisata tersebut. Letaknya yang cukup jauh dari pusat kota, ditambah akses menuju lokasi ini juga didominasi jalan rusak, membuat warga malas mengunjungi tempat tersebut.

Padahal, di Teluk Kiluan ini ada potensi yang jarang ditemukan di lokasi lain. Lumba-lumba, mamalia laut inilah yang menjadi daya tarik Teluk Kiluan bagi wisatawan selain pantainya yang memesona dan alam bawah lautnya yang eksotis.

Hal ini pula yang melatarbelakangi keluarga Tatang, pemilik sekaligus pengelola Kiluan Dolphin DQ, membeli sejumlah lahan di sana. ’’Kami awalnya ingin mencari tempat untuk wisata bagi keluarga kami. Oleh sebab itu, kami pun membangun satu cottage,” ujar Tatang kepada Radar Lampung kemarin.

Namun seiring perjalanan waktu, Tatang dan keluarga menyadari potensi wisata yang sangat besar di daerah tersebut. ’’Wisatawan domestik atau asing biasanya menjadikan daerah Indonesia Tengah dan Timur atau Pulau Jawa untuk tujuan wisata pantai mereka. Mereka tidak sadar Kiluan pun tak kalah indah dengan daerah-daerah tersebut,” katanya.

Dengan modal cottage yang mereka miliki, Tatang dan keluarga mulai membuka jalur tur Kiluan sejak September 2011. Promosi tur ini pun hanya melalui media sosial. Namun tanpa disangka, jalur promosi ini cukup ampuh. Sekitar 90 persen pelanggan mengaku mengetahui Kiluan Dolphin dari media sosial.

’’Segmen kami untuk back packer. Sehingga tarif yang kami tawarkan pun sangat murah. Karena hanya memiliki satu cottage, kami pun menawarkan paket tenda. Kami memiliki tenda dengan kapasitas hingga empat orang,” paparnya.

Tidak hanya untuk mencari keuntungan semata, Kiluan Dolphin pun berupaya memajukan daerah ini. Dari segi sumber daya manusia, bisnis ini melibatkan warga sekitar. Tak hanya itu, Tatang dan sesama teman pencinta alam juga tengah berencana memperbaiki terumbu karang di sekitar Teluk Kiluan yang rusak akibat illegal fishing.

’’Customer pertama kami kala itu dari Jakarta. Kemudian ada juga dari Bandung dan Palembang. Sementara untuk penduduk Lampung masih jarang. Paket tur kami full booked hingga Juni untuk weekend. Sedangkan untuk weekday masih ada kesempatan. Rata-rata mereka datang ke sana karena ingin melihat lumba-lumba. Sebab kabarnya kumpulan lumba-lumba di Kiluan terbesar di Asia, bahkan dunia,” terangnya bersemangat.

Memang jika tengah beruntung dan cuaca baik, wisatawan dapat melihat ribuan ekor lumba-lumba tengah berenang melintas. Namun jika tak beruntung dan cuaca buruk, wisatawan hanya melihat puluhan ekor. ’’Jadi ngapain jauh-jauh ke luar kota bahkan ke luar negeri. Di Lampung saja ada kok,” lanjutnya.

Tetapi, menurut dia, memang masih banyak hal yang harus diperbaiki dari wilayah ini guna mendukung potensi wisata di daerah tersebut. Sebab bukan tidak mungkin segunung PAD bisa dihasilkan jika potensi ini tergarap maksimal. Selain jalan, listrik pun belum mengaliri daerah ini. Selama ini, warga setempat menggunakan diesel yang dipakai beramai-ramai dengan iuran Rp70 ribu per bulan. (c1/fik)

Sumber : Radar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *